04 September 2008



Bidadari Syurga, Ainul Mardiyah

Pengantar

Kisah ini Sudah sangat terkenal. Penulis diambil dari salah seorang blogger. Ada bebrapa referensi lain, misalnya dari milis, Myquran. Ataupun dari milis. Yang saya pahami, bahwa kisah ini hanyalah karangan seorang sastrawan Aceh, untuk memberikan semangat kepada pemuda pemuda di Aceh dalam melawan penjajahan. Jadi bukan kisah nyata. Wallahu a’lam. Namun demikian, alangkah bagusnya jika kita bisa mengambil ibroh/pelajaran dari kisah kisah tersebut.
_________________________________________________

Dalam suatu kisah yang dipaparkan Al Yafi’i dari Syeikh Abdul Wahid bin Zahid, dikatakan: Suatu hari ketika kami sedang bersiap-siap hendak berangkat perang, aku meminta beberapa teman untuk membaca sebuah ayat. Salah seorang lelaki tampil sambil membaca ayat Surah At Taubah ayat 111, yang artinya sebagai berikut :

"Sesungguhnya Allah telah membeli dari orang-orang mu’min, diri dan harta mereka dengan memberikan sorga untuk mereka"

Selesai ayat itu dibaca, seorang anak muda yang berusia 15 tahun atau lebih bangkit dari tempat duduknya. Ia mendapat harta warisan cukup besar dari ayahnya yang telah meninggal. Ia berkata:"Wahai Abdul Wahid, benarkah Allah membeli dari orang-orang mu’min diri dan harta mereka dengan sorga untuk mereka?" "Ya, benar, anak muda" kata Abdul Wahid. Anak muda itu melanjutkan:"Kalau begitu saksikanlah, bahwa diriku dan hartaku mulai sekarang aku jual dengan sorga."

Anak muda itu kemudian mengeluarkan semua hartanya untuk disedekahkan bagi perjuangan. Hanya kuda dan pedangnya saja yang tidak. Sampai tiba waktu pemberangkatan pasukan, ternyata pemuda itu datang lebih awal. Dialah orang yang pertama kali kulihat. Dalam perjalanan ke medan perang pemuda itu kuperhatikan siang berpuasa dan malamnya dia bangun untuk beribadah. Dia rajin mengurus unta-unta dan kuda tunggangan pasukan serta sering menjaga kami bila sedang tidur.

Sewaktu sampai di daerah Romawi dan kami sedang mengatur siasat pertempuran, tiba-tiba dia maju ke depan medan dan berteriak:"Hai, aku ingin segera bertemu dengan Ainul Mardhiyah . ." Kami menduga dia mulai ragu dan pikirannya kacau, kudekati dan kutanyakan siapakah Ainul Mardiyah itu. Ia menjawab: "Tadi sewaktu aku sedang kantuk, selintas aku bermimpi. Seseorang datang kepadaku seraya berkata: "Pergilah kepada Ainul Mardiyah." Ia juga mengajakku memasuki taman yang di bawahnya terdapat sungai dengan air yang jernih dan dipinggirnya nampak para bidadari duduk berhias dengan mengenakan perhiasan-perhiasan yang indah. Manakala melihat kedatanganku , mereka bergembira seraya berkata: "Inilah suami Ainul Mardhiyah . . . . ."

"Assalamu’alaikum" kataku bersalam kepada mereka. "Adakah di antara kalian yang bernama Ainul Mardhiyah?" Mereka menjawab salamku dan berkata: "Tidak, kami ini adalah pembantunya. Teruskanlah langkahmu" Beberapa kali aku sampai pada taman-taman yang lebih indah dengan bidadari yang lebih cantik, tapi jawaban mereka sama, mereka adalah pembantunya dan menyuruh aku meneruskan langkah.

Akhirnya aku sampai pada kemah yang terbuat dari mutiara berwarna putih. Di pintu kemah terdapat seorang bidadari yang sewaktu melihat kehadiranku dia nampak sangat gembira dan memanggil-manggil yang ada di dalam: "Hai Ainul Mardhiyah, ini suamimu datang ......."

Ketika aku dipersilahkan masuk kulihat bidadari yang sangat cantik duduk di atas sofa emas yang ditaburi permata dan yaqut. Waktu aku mendekat dia berkata: "Bersabarlah, kamu belum diijinkan lebih dekat kepadaku, karena ruh kehidupan dunia masih ada dalam dirimu." Anak muda melanjutkan kisah mimpinya: "Lalu aku terbangun, wahai Abdul Hamid. Aku tidak sabar lagi menanti terlalu lama".

Belum lagi percakapan kami selesai, tiba-tiba sekelompok pasukan musuh terdiri sembilan orang menyerbu kami. Pemuda itu segera bangkit dan melabrak mereka. Selesai pertempuran aku mencoba meneliti, kulihat anak muda itu penuh luka ditubuhnya dan berlumuran darah. Ia nampak tersenyum gembira, senyum penuh kebahagiaan, hingga ruhnya berpisah dari badannya untuk meninggalkan dunia. ( Irsyadul Ibad ).

sumber :islam.blogsome.com


Tiada Kejahatan yang Tidak Terbalas


Seorang pemuda yang masih belia tampak begitu klelahan dan kehausan. Maka tatkala tiba di disuatu oase yang bening airnya dengan tnaman rindang disekelilingnya, penunggang kuda itu menghentikan kudanya dan turun ditempat tersebut. Ia berbaring, lalu meletakkan sebuah bungkusan disampingnya. Matahari sangat terik, namun disitu amat teduh, sehingga tanpa sengaja ia tertidur pulas setelah memuaskan dahaganya dengan meminum air bening di oase tadi.

Ketika ia terjaga, matahari mulai condong. Ia sedang mengejar waktu karena ibunya sakit keras. Tampaknya ia anak seorang yang kaya raya, terlihat dari pakaiannya yang mewah dan kudanya yang mahal. Dengan tergesa-gesa ia melompat ke punggung kuda dan bungkusannya tertinggal karena ia hanya berpikir untuk segera tiba dirumah menunggui ibunya yang sedang sekarat. Bapaknya sudah meninggal dibunuh orang beberapa tahun yang lalu.

Tidak lama setelah ia meninggalkan tempat tersebut, seorang penggembala lewat ditempat tersebut. ia terkesima melihat ada sebuah bungkusan kain tergeletak dibawah pohon. Diambilnya bungkusan itu, lalu dibawanya pulang kegubuknya yang buruk. Alangkah gembiranya hati si anak gembala tersebut tatkala melihat bungkusan tersebut ternyata isinya emas dan perak yang sangat berharga. Ia yatim piatu dan masih kecil sehingga penemuan itu di anggapnya merupakan hadiah baginya. ketika tempat tadi sudah sepi, seorang kakek yang sudah bungkuk berjalan terseok-seok melalui oase tadi. Karena kelelahan ia beristirahat di bawah pohon yang rimbun. Belum sempat ia melepas lelah, anak muda penunggang kuda yang tertidur sebelumnya dibawah pohon tadi datang hendak mengambil bungkusan yang tertinggal.

Tatkala ia sampai, alangkah terkejutnya pemuda tersebut melihat bahwa dipohon tersebut tidak lagi menemukan bungkusan kain. Yang nampak hanyalah seorang kakek. Mka pemuda tu dengan suara keras bertanya kepada si kakek, "Mana bungkusan yang tadi disini?"

"Saya tidak tahu," jawab kakek dengan gemetar.

"Jangan bohong!" bentak si pemuda.
"Sungguh, waktu saya tiba disini,tidak ada apa-apa kecuali kotoran kambing".
"Kurang ajar! Kamu mau mempermainkan aku? Pasti engkau yang mengambil bungkusanku dan meyembunyikan disuatu tempat.. Ayo kembalikan!"
"Bungkusan itu baru kuambil dari kawan ayahku sebagai warisan yang telah dititipkan ayahku kepadanya untuk diserahkan kepadaku kalau akus sudah dewasa, yaitu sekarang ini. Kembalikan!"
"Sumpah tuan, saya tidak tahu,"sahut kakek tersebut makin ketakutan.
"Kurang ajar! Bohong! Ayo serahkan kembali. Bila tidak ,tahu rasa nanti" hardik pemuda tadi.

Karena kakek itu tidak tahu apa-apa, maka ia tetap bersikeras tidak melihat bungkusan tersebut. Si pemuda tidak bisa dapat mengendalikan kemarahannya lahi. di cabutnya pedang pendek dari pinggangnya dan akhirnya kakek tadi di bunuhnya. Setelah itu ia mencari kesana-kemari mencari bungkusan yang ia tinggalkan. Akan tetapi tidak ditemukan. Setelah itu ia naik ke punggung kuda dan memacunya ke rumahnya dengan perasaan marah dan kecewa.

Berita ini ditanyakan kepada Nabi Musa oleh salah seorang muridnya. "Wahai Nabiyullah, bukankah cerita tersebut justeru menunjukan ketidak adilan Allah?"
"Maksudmu?" tanya Nabi Musa".
"Kakek itu tidak berdosa tetapi menanggung malapetaka yang tidak patut diterimanya. Sedangkan si anak gembala yang mengantungi harta tadi malah bebas tidak mendapatkan balasan yang setimpal".
"Menurutmu Tuhan tidak adil?" ucap Nabi Musa terbelalak. "Masa Allah. Dengarkan baik-baik latar belakang ceritanya. Kemudian Nabi Musa pun bercerita, "Ketahuilah, dahulu ada seorang petani hartawan dirampok semua perhiasan harta benda miliknya oleh dua orang bandit yang kejam. setelah berhasil merampok, harta itu dibagi dua oleh perampok tersebut. Dalam pembagian harta rampokan tersebut terjadi kecurangan oleh salah seorang bandit yang tamak sehingga harta rampokkan tersebut dikuasainya sendiri setelah membunuh kawannya. Bandit yang tamak itu adalah kakek yang di bunuh oleh pemuda tadi. Sedangkan bandit yang dibunuh oleh kakek itu adalah ayah dari pemuda yang membunuh kakek tadi. Disini berarti nyawa di bayar nyawa. Sedangkan petani yang hartawan itu adalah ayah dari si pemuda gembala tadi yang mengambil bungkusan kain tadi. Itulah keadilan Tuhan. Harta kekayaan telah kembali kepada yang berhak dan kejahatan dua bandit tadi telah memperoleh balasan yang setimpal. Meskipun peristiwanya tidak berlangsung tepat pada masanya".

Di kutip dari buku
"KISAH KEADILAN PARA PEMIMPIN ISLAM"
KARYA : NASIRRUDIN S.AG.MM,
Mengintip Syurga dan Neraka

Syurga dan neraka merupakan saksi hidup seseorang (jin and manusia). Semua manusia mengetahui bagaimana agar selamat sejak di dunia fana dan memperoleh kenikmatan syurga.

Meskipun manusia mempunyai kecondongan untuk berbuat kejahatan atau dosa, namun sesungguhnya ia ingin keselamatan dan ambisi bertaubat agar mendapakan rahmat Allah swt.

Dengan do’a, dan amal salihlah kami mohon kepada Allah yang Maha Pencipta agar kami digolongkan ke dalam kaum yang beruntung.

Tidaklah diragukan lagi bahawa pendapat tentang kewujudan syurga dan neraka akan menumbuhkan ghairah, keinginan kita untuk menjadi Ahlil Yamin (Golongan Kanan). Telah banyak ayat Al-Quran, hadis Nabi SAW serta beberapa riwayat yang membahas tentang Syurga dan Neraka secara berkesinambungan dan seimbang antara motivasi dan intimidasi (rangsangan dan peringatan).

Buku “Akhbaarul Jannah wan Naar” ini mengingatkan kita ke jalan lurus seperti yang dilukiskan oleh al-Quranul Karim agar tercapai keredhaan Allah untuk kita tetap tekuni dan pada masa yang sama menjauhi jejak perjalanan orang-orang yang sesat. Kemudian kita perhatikan sederetan ayat, hadis dan riwayat mengenai situasi Syurga dan Neraka agara tercapai gambaran pemikiran pada batas maksima.

Dalam penulisan kitab ini, penulis sangat mengutamakan pedoman dari sumber yang utama yakni “Tafsir Al-Quranul Karim” kayra al Hafidh Ibnu Kathir. Menurutku, tafsir tersebut terdapat pengetahuan yang amat luas disamping mencakup beberapa pendapat perawi dan penafsir khususnya Imam Thobari serta Ibnu Kathir rasanya cukup relevan dengan pendapat lain. Sehingga saya pilih juga pokok bahasannya dari kitab tebal oleh Ibnu Kathir dengan berpedoman pada: Keikutasertaan jejak yang dipakai oleh Ibnu Kathir atas ayat-ayat dan hadis serta pendapat para terdahulu tanpa menambah dan mengurangi, kecuali dengan kalimat yang erat hubunganny adengan permasalahan, untuk mentahqiq daun pokok fikiran yang selaras dengan urutan yang digunakan dalam kitab ini.

Sedang untuk memasukkan kalimat, kami letakkan dalam kurung ( ) begitu juga mengenai kalimat yang bukan bersumber dari Al-Quran.

Adapun mengenai urutan pokok fikiran serta perletakan sub judul disesuaikan dan diatus sedemikan rupa untuk mempermudah bagi pembaca. Kami usahakan agar penamaan kitab “Akhbarul Jannah wan Naar” ini sesuai dengan isi yang terkandung di dalamnya. Kadang dengan terpaksa dalam penjelasan ayat kami menghilangkan sebahagian penafsiran dan pendapat yang lain agar kita sering terulang khususnya huruf ‘an an’ yang terdapat pada pendahuluan hadis Nabi, cukuplah kami sebukan nama perawi dan sanad awal sahaja.

Untuk tafsir al Quranul Adhim, kami pilih percetakan Kitab asy-Say’by,s edangkan dalam penafsiran kata-kata sulit, kami bersandar pada “Lisaanul Arab” dan “Tafsir at-Thobary.”

Dalam kita ini, tidaklah kami membahas tentang taman dan api (jannah dan naar) di dunia seperti yang terdapat di dalam surah Al-Qalam;

“Sesungguhnya Kami telah menguji mereka (musyrikin Mekah) sebagaimana Kami telah menguji pemilik-pemilik kebun.” (QS. Qalam: 17)

Dan dalam surah Al-Waqiah, ayat 71;

“Maka terangkanlah kepadaku tentang api yang kamu nyalakan (dari gosok-gosokan kayu…).”

Tetapi yang kami maksudkan ialah syurga dan neraka sebagai pembalasan di hari akhir yang akan dialami setelah mati.

Dalam mengetengahkan bab khusus tentang perjalanan ahli syurga dan ahli neraka, tidaklah diperlukan keterangan tambahan, melainkan cukup dengan mengetengahkan ayat dan penafsirannya secara berurutan, kerana adanya hubungan antara erti umum dan penjelasannya.

Disampaikan juga sebahagian riwayat dan kisah tentang syurga dan neraka tidak berasal dari hadis Nabi melainkan dinisbatkan kepada penghuninya. Memang tidak ada salahnya melukiskan dan menggambarkan secara konkrit alam syurga dan neraka, demi tercapainya maksud dna tujuan, kerana hal itu akan lebih mudah diterima oleh akan dan tiada ada larangan (aturan) dalam hukum fiqh, bahkan gambaran, ilustrasi dengan sastera lebih bisa menarik dan mudah diterima.

Ibnu Kathir, H.I. Press, 1994


Taat Dan Cinta Kepada Allah Dan Rasul-Nya


Seorang hamba yang mengetahui bahwa kesempurnaan yang hakiki tiada lain kecuali milik Allah dan setiap yang tampak sempurna dari dirinya atau orang lain adalah dari dan karena Allah, maka hal itu akan menuntut keinginan menaati-Nya dan mencintai segala yang mendekatkan diri kepada-Nya.

Allah SWT berfirman, Katakanlah, "Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihimu" (QS Ali 'Imran [3]: 31).

Ketahuilah, wahai yang dikasihi Allah, bahwa kecintaan hamba kepada Allah dan Rasul-Nya adalah ketaatan dan kepatuhan kepada perintah Allah dan Rasul-Nya. Adapun kecintaan Allah kepada hamba-Nya adalah limpahan ampunan-Nya kepadanya.

Ada yang mengatakan, apabila hamba mengetahui bahwa kesempurnaan yang hakiki tiada lain kecuali milik Allah dan setiap yang tampak sempurna dari dirinya atau orang lain adalah dari dan karena Allah, cintanya hanya milik dan kepada Allah. Hal itu menuntut keinginan mentaati-Nya dan mencintai segala yang mendekatkan diri kepada-Nya. Oleh karena itu, mahabbah ditafsirkan sebagai keinginan untuk taat dan kelaziman mengikuti Rasulullah SAW dalam peribadatannya. Hal itu merupakan dorongan menuju ketaatan kepada-Nya.

Al-Hasan r.a. berkata, "Beberapa kaum berjanji di hadapan Rasulullah SAW, 'Wahai Rasulullah, sungguh kami mencintai Tuhan kami.' Maka turunlah ayat di atas."

Basyar al-Hâfî berkata, "Aku bermimpi bertemu dengan Nabi SAW. Beliau bertanya, 'Wahai Basyar, tahukah engkau, dengan apa Allah meninggikanmu diantara kawan-kawanmu?' "Tidak, wahai Rasulullah," jawabku. Beliau bersabda, 'Dengan baktimu kepada orang-orang saleh, nasihatmu kepada saudara-saudaramu, kecintaanmu kepada sahabat-sahabatmu dan pengikut Sunnahku, dan kepatuhanmu kepada Sunnahku.' Selanjutnya Nabi SAW bersabda, 'Barangsiapa yang menghidupkan Sunnahku, dia telah mencintaiku. Dan, barangsiapa yang mencintaiku, pada hari kiamat dia bersamaku di surga.'"

Di dalam hadits masyhur disebutkan bahwa orang yang berpegang pada Sunnah Rasulullah SAW ketika orang lain berbuat kerusakan dan terjadi pertikaian diantara para penganut mazhab, dia memperoleh pahala dengan seratus pahala syuhada. Demikian disebutkan dalam Syir'ah al-Islam.

Nabi SAW bersabda, "Semua umatku masuk surga kecuali orang yang tidak menginginkannya." "Para sahabat bertanya, "Siapa yang tidak menginginkannya?" Beliau menjawab, "Orang yang mentaatiku masuk surga, sedangkan orang yang durhaka kepada-ku tidak menginginkan masuk surga. Setiap amalan yang tidak berdasarkan Sunnahku adalah kemaksiatan."

Seorang ulama sufi berkata, "Kalau Anda melihat seorang guru sufi terbang di udara, berjalan di atas laut atau memakan api, dan sebagainya, sementara dia meninggalkan perbuatan fardlu atau sunnah secara sengaja, ketahuilah bahwa dia berdusta dalam pengakuannya. Perbuatannya bukanlah karamah. Kami berlindung kepada Allah dari yang demikian."

Al-Junayd r.a. berkata, "Seseorang tidak akan sampai kepada Allah kecuali melalui Allah. Jalan untuk sampai kepada Allah adalah mengikuti al-Mushthafa SAW".

Ahmad al-Hawari r.a. berkata, "Setiap perbuatan tanpa mengikuti Sunnah adalah batil. Sebagaimana sabda Nabi SAW, "Barangsiapa yang mengabaikan Sunnahku, haram baginya syafaatku." Demikian disebutkan dalam Syir'ah al-Islam.

Ada seorang gila yang tidak meremehkan dirinya. Kemudian, hal itu diberitahukan kepada Ma'ruf al-Karkhi. Dia tersenyum, lalu berkata, "Wahai saudaraku, Allah memiliki para pencinta dari anak-anak, orang dewasa, orang berakal, dan orang gila. Yang ini adalah yang engkau lihat pada orang gila."

Al-Junayd berkata, "Guruku al-Sari r.a. jatuh sakit. Kami tidak tahu obat untuk menyembuhkan penyakitnya dan juga tidak tahu sebab sakitnya. Dokter yang berpengalaman memberikan resep kepada kami. Oleh karena itu, kami menampung air seninya ke dalam sebuah botol. Lalu, dokter itu melihat dan mengamatinya dengan saksama. Kemudian dia berkata, Aku melihat air seni ini seperti air seni seorang pencinta ('âsyiq). 'Aku seperti disambar petir dan jatuh pingsan. Botol itu pun jatuh dari tanganku. Kemudian, aku kembali kepada al-Sari dan mengabarkan hal itu kepadanya. Dia tersenyum dan berkata, 'Allah mematikan apa yang dia lihat.' Aku bertanya, 'Wahai guru, apakah mahabbah itu tampak jelas dalam air seni?' Dia menjawab, 'Benar.'

Al-Fudhayl r.a. berkata, "Apabila ditanyakan kepadamu, apakah engkau mencintai Allah, diamlah. Sebab, jika engkau menjawab 'tidak', engkau menjadi kafir. Sebaliknya, jika engkau menjawab 'ya', berarti sifatmu bukan sifat para pencinta Allah maka waspadalah dalam mencintai dan membenci (sesuatu)."

Sufyân berkata, "Barangsiapa mencintai orang yang mencintai Allah SWT, berarti dia mencintai Allah. Barangsiapa memuliakan orang yang memuliakan Allah SWT, berarti dia memuliakan Allah SWT." Sahl berkata, "Tanda kecintaan kepada Allah adalah kecintaan kepada al-Qur'an. Tanda kecintaan kepada Allah dan al-Qur'an adalah kecintaan kepada Nabi SAW. Tanda kecintaan kepada Nabi SAW. adalah kecintaan kepada Sunnahnya. Tanda kecintaan kepada Sunnahnya adalah kecintaan kepada akhirat. Tanda kecintaan kepada akhirat adalah membenci keduniaan. Tanda kebencian kepada keduniaan adalah tidak mengambilnya kecuali sebagai bekal dan perantara menuju akhirat."

Abu al-Hasan al-Zanjânî berkata, "Pokok ibadah itu adalah tiga anggota badan, yaitu telinga, hati, dan lidah. Telinga untuk mengambil pelajaran, hati untuk bertafakur, sedangkan lidah untuk berkata benar, bertasbih, dan berzikir. Sebagaimana Allah SWT berfirman, "Berzikirlah kepada Allah dengan zikir yang sebanyak-banyaknya. Dan bertasbihlah kepada-Nya di waktu pagi dan petang". (QS. al-Ahzab [33]: 41-42).

Abdullah dan Ahmad bin Harb berada di suatu tempat. Lalu, Ahmad bin Harb memotong sehelai daun rumput. Kemudian, Abdullah berkata kepadanya, "Engkau mengambil lima hal yang melalaikan kalbumu dari bertasbih kepada Maulamu. Engkau membiasakan dirimu sibuk dengan selain zikir kepada Allah SWT. Engkau jadikan hal itu sebagai jalan yang diikuti orang lain, dan engkau mencegahnya dari bertasbih kepada Tuhannya. Engkau bebankan kepada dirimu hujjah Allah 'Azza wa jalla pada hari kiamat." Demikian dikutip dari Rawnaq al-Majâlis.

Al-Sari r.a. berkata, "Aku bersama al-Jurjânî melihat tepung. Lalu, al-Jurjânî menelannya. Aku tanyakan hal itu kepadanya, 'Mengapa engkau tidak memakan makanan yang lain?' Dia menjawab, 'Aku hitung di antara mengunyah dan menelan itu ada tujuh puluh kali tasbih. Karena itu, aku tidak pernah lagi memakan roti sejak empat puluh tahun yang lalu.

Sahl bin Abdullah makan setiap lima belas hari sekali. Ketika memasuki bulan Ramadlan, dia tidak makan kecuali sekali saja. Sekali-sekali dia menahan lapar hingga tujuh puluh hari. Apabila makan, badannya menjadi lemah. Namun jika lapar, badannya menjadi kuat. Dia beriktikaf di Masjidil Haram selama tiga puluh tahun tanpa terlihat makan dan minum. Dia tidak melewatkan sesaat pun dari berzikir kepada Allah.

'Umar bin 'Ubayd tidak pernah keluar dari rumahnya kecuali karena tiga hal, yaitu shalat berjamaah, menjenguk orang sakit, dan melayat orang yang meninggal. Dia berkata, "Aku melihat orang-orang mencuri dan merampok. Umur adalah mutiara indah yang tidak ternilai maka hendaklah umur itu disimpan dalam lemari yang abadi di akhirat.

Ketahuilah bahwa pencari akhirat harus melakukan kezuhudan dalam kehidupan dunia agar cita-citanya hanya satu dan batinnya tidak terpisah dari lahirnya. Tidak mungkin menjaga keadaan itu kecuali dengan penguasaan lahir dan batin."

Ibrahim bin al-Hakim berkata, "Apabila hendak tidur, bapakku sering menceburkan diri ke laut, lalu bertasbih. Ikan-ikan hiu pun berkumpul dan ikut bertasbih bersamanya."

Wahab bin Munabbih berdoa kepada Allah agar dihilangkan rasa kantuk pada malam hari. Karena itu, dia tidak pernah tidur selama empat puluh tahun. Hasan al-Hallaj mengikat kakinya dari mata kaki hingga lutut dengan tiga belas ikatan. Dia menunaikan shalat dalam keadaan seperti itu sebanyak seribu rakaat dalam sehari semalam.

AI-Junayd pernah pergi ke pasar dan membuka tokonya. Dia masuk, menurunkan tirai, menunaikan shalat empat ratus rakaat, kemudian pulang. Selama empat puluh tahun Habsyi' bin Dawud menunaikan shalat dluha dengan wudlu untuk shalat 'isya maka hendaklah orang-orang Mukmin selalu dalam keadaan suci. Setiap kali berhadas, bersegeralah bersuci, shalat dua rakaat, dan berusaha menghadap kiblat dalam setiap duduknya. Hendaklah dia membayangkan bahwa dirinya sedang duduk di hadapan Nabi SAW, menurut kadar kehadiran dan pengawasan batinnya. Dengan demikian, dia terbiasa tenang dalam segala perbuatan. Dia rela menanggung penderitaan, tidak melakukan sesuatu yang menyakiti (orang lain), dan memohon ampunan dari setiap hal yang menyakitkan. Dia tidak membanggakan diri dan perbuatannya, karena bangga diri ('ujb) termasuk sifat-sifat setan. Pandanglah diri dengan mata kehinaan dan pandanglah orang-orang saleh dengan mata kemuliaan dan keagungan. Barangsiapa yang tidak mengenal kemuliaan orang-orang saleh, Allah mengharamkannya bergaul dengan mereka. Dan barangsiapa yang tidak mengenal mulianya ketaatan, dicabutlah manisnya ketaatan itu dari kalbunya.

Al-Fudhayl bin 'Iyadh ditanya, "Wahai Abu' Al-Fudhayl, kapan seseorang bisa dikatakan orang saleh?" Dia menjawab, "Apabila ada kesetiaan dalam niatnya, ada ketakutan dalam kalbunya, ada kebenaran pada lidahnya, dan ada amal saleh pada anggota tubuhnya."

Allah Swt. berfirman ketika Nabi Saw. melakukan mikraj, "Wahai Ahmad, jika engkau ingin menjadi orang yang paling wara, berlaku zuhudlah di dunia dan cintailah akhirat, "Nabi Saw. bertanya, "Wahai Tuhanku, bagaimana cara aku berlaku zuhud di dunia?" Allah menjawab, " Ambillah dari keduniaan itu sekadar memenuhi keperluan makan, minum, dan pakaian. Janganlah menyimpannya untuk hari esok dan biasakanlah berzikir kepada-Ku." Nabi SAW bertanya lagi, "Wahai Tuhanku, bagaimana cara aku membiasakan berzikir kepada-Mu?" Allah menjawab, "Dengan mengasingkan diri dari manusia. Gantilah tidurmu dengan shalat dan makanmu dengan lapar."

Nabi SAW bersabda, "Kezuhudan di dunia dapat menenangkan hati dan badan. Kecintaan kepadanya dapat memperbanyak tekad kuat dan kesedihan. Kecintaan kepada keduniaan merupakan induk setiap kesalahan, dan kezuhudan dari keduniaan merupakan induk setiap kebaikan dan ketaatan."

Seorang saleh melewati sekelompok orang. Tiba-tiba dia mendengar seorang dokter sedang menerangkan tentang penyakit dan obat-obatan. Dia bertanya, "Wahai penyembuh penyakit tubuh, dapatkah engkau mengobati penyakit hati?" Dokter itu menjawab, "Ya, sebutkan penyakitnya." Orang saleh itu berkata, "Dosa telah menghitamkannya sehingga menjadi keras dan kering. Apakah engkau dapat mengobatinya?" Dokter menjawab, "Obatnya adalah ketundukan, permohonan yang sungguh-sungguh, istigfar di tengah malam dan siang hari, bersegera menuju ketaatan kepada Zat Yang Mahamulia dan Maha Pemberi ampunan, dan permohonan maaf kepada Raja Yang Mahakuasa. Inilah obat penyakit hati dan penyembuhan dari Zat Yang Maha Mengetahui segala yang gaib." Lalu, orang saleh itu menjerit dan berlalu sambil menangis. Dia berkata, "Dokter yang baik, engkau telah mengobati penyakit hatiku." Dokter itu berkata, "Ini adalah penyembuhan penyakit hati orang yang bertaubat dan mengembalikan kalbunya kepada Zat Yang Mahabenar dan Maha Menerima taubat".

Dikisahkan bahwa seseorang membeli seorang budak. Lalu budak itu berkata, "Wahai tuanku, aku ingin mengajukan tiga syarat kepada Anda. Pertama, Anda tidak menghalangiku untuk menunaikan shalat wajib apabila tiba waktunya. Kedua, Anda boleh memerintahku sesuka Anda pada siang hari, namun tidak menyuruhku pada malam hari. Ketiga, Anda memberikan kepadaku sebuah kamar di rumah Anda yang tidak boleh dimasuki orang lain." Pembeli budak itu berkata, "Aku akan memenuhi syarat-syarat itu."

Selanjutnya dia berkata, "Lihatlah kamar-kamar itu." Budak itu pun berkeliling dan menemukan sebuah kamar yang sudah rusak, lalu berkata, "Aku mengambil kamar ini." Pembeli budak itu bertanya, "Wahai budak, mengapa engkau memilih kamar yang rusak?" Budak itu menjawab, "Wahai tuanku, tidakkah Anda tahu bahwa yang rusak itu di sisi Allah merupakan taman."

Budak itu melayani tuannya pada siang dan malamnya dia beribadah kepada Tuhannya. Hingga pada suatu malam, tuannya berkeliling di sekitar rumahnya, lalu sampai dikamar budak itu. Tiba-tiba dia melihat kamar itu bercahaya, sementara budak itu sedang bersujud dan di atas kepalanya ada pelita dari cahaya yang tergantung di antara langit dan bumi. Budak itu bermunajat dan merendahkan diri (kepada Allah): Dia berdoa, "Ya Allah, aku memenuhi hak tuanku dan melayaninya pada siang hari. Kalau tidak begitu, niscaya aku tidak akan melewatkan siang dan malamku selain untuk berkhidmat kepada-Mu maka ampunilah aku, wahai Tuhanku."

Tuannya menyaksikan hal itu hingga tiba waktu subuh. Pelita itu menghilang dan atap kamar itu pun menutup kembali. Lalu, dia kembali dan memberitahukan hal itu kepada istrinya. Ketika malam kedua tiba, dia mengajak istrinya dan mendatangi pintu kamar itu. Tiba-tiba mereka menemukan budak itu sedang bersujud dan ada pelita di atas kepalanya. Mereka pun berdiri di depan pintu kamar sambil memandangi budak itu dan menangis hingga tiba waktu subuh. Lalu, mereka memanggil budak itu dan berkata, "Engkau aku merdekakan karena Allah SWT sehingga engkau dapat mengisi siang dan malammu dengan beribadah kepada Zat yang engkau mohonkan maaf-Nya."

Kemudian, budak itu menadahkan tangannya ke langit dan berkata,

Wahai Pemilik segala rahasia
kini rahasia itu telah tampak
hidup ini tak lagi kuinginkan
setelah rahasia itu tersebar.

Lalu dia berdoa, "Ya Allah, aku memohon kematian kepada-Mu." Budak itu pun tersungkur dan lalu meninggal. Demikianlah keadaan orang-orang saleh, serta para pencinta dan pendamba.

Dalam Zahr al-Riyadh disebutkan bahwa Musa a.s. punya seorang karib yang sangat dekat. Pada suatu hari, karibnya berkata, "Wahai Musa, berdoalah kepada Allah agar aku dapat mengenal-Nya dengan makrifat yang sebenar-benarnya."

Musa a.s. berdoa, dan doanya dikabulkan. Kemudian, karibnya pergi ke puncak gunung bersama binatang-binatang buas. Musa pun kehilangan dia maka Musa berdoa, "Wahai Tuhanku, aku kehilangan saudara dan karibku." Tiba-tiba ada jawaban, "Wahai Musa, orang yang mengenal-Ku dengan makrifat yang sebenar-benarnya tidak bergaul dengan makhluk untuk selama-lamanya."

Dalam sebuah hadits disebutkan bahwa Yahya a.s. dan Isa a.s. sedang berjalan di pasar. Tiba-tiba seorang perempuan menabrak mereka. Yahya a.s. berkata, "Demi Allah, aku tidak merasakannya."

Lalu Isa a.s. bertanya, "Mahasuci Allah, badanmu ada bersamaku. tetapi kalbumu ada di mana!" Yahya a.s. menjawab, "Wahai anak bibiku, kalau kalbu merasa tenteram kepada selain Allah sekejap mata pun, niscaya engkau mengira aku tidak mengenal Allah."

Seorang ulama berkata, "Makrifat yang benar adalah menceraikan dunia dan akhirat, dan menyendiri untuk Maula. Dia mabuk karena tegukan mahabbah. Karena itu, dia tidak sadar kecuali ketika melihat Allah. Dia berada di atas cahaya dari Tuhannya."


Sumber : CyberMQ.com


Contoh Kejuhudan

Amirul Mukminin, Utsman RA, menjenguk sahabat Abdullah bin Mas'ud RA yang sedang menderita sakit.
Utsman bertanya, "Apa yang engkau keluhkan?"
Abdullah bin Mas'ud menjawab, "Keluhan tentang dosa-dosaku."
Selanjutnya mereka terlibat perbincangan.

Utsman : "Apa yang engkau inginkan?"

Abdullah : "Rahmat Tuhanku."
Utsman : "Maukah kami panggilkan dokter?"
Abdullah : "Dokter menyebabkan aku lebih sakit."
Utsman : "Maukah kami menyuruh mendatangkan keperluan dan kebutuhanmu?"
Abdullah : "Apa yang tidak aku peroleh sebelum hari ini, tidaklah aku butuhkan untuk hari ini."
Utsman : "Untuk peninggalan bagi anak-anak dan keluargamu?"
Abdullah : "Sudah aku didik dan ajari mereka ilmu. Jika mereka memeliharanya, mereka tidak akan menderita
kemiskinan."



Sumber : CyberMQ.com


Ulah Seseorang Yang Kikir


Seorang yang terkenal kikir mempekerjakan seorang pembelah kayu dengan upah yang telah disepakati bersama.

Kemudian sang kikir merasa bahwa upah tersebut terlalu tinggi sehingga dia berusaha untuk menguranginya.
Setiap kali si pembelah kayu mengayunkan kapaknya, sang kikir berteriak, "Hoa...!"
Setelah pekerjaan selesai, sang kikir menyerahkan separo dari upahnya dengan alasan bahwa dia juga membantu pekerjaan
dengan teriakan-teriakannya itu. Pantas saja si pembelah kayu tidak dapat menerimanya.

Dia mengadukan perkara itu kepada hakim. Hakim yang cerdik dan adil minta seluruh upah untuk dibagi.
Uang tersebut satu persatu diletakkan di atas meja sambil berkata, "Uang ini untuk pembelah kayu dan suara gemerincingnya untuk sang pemberi upah."
Sang hakim melakukan hal itu sampai selesai dengan menyerahkan seluruh uangnya kepada si pembelah kayu,
sedang suara gemerincingnya seluruhnya buat si kikir.


Sumber : CyberMQ.com


Kisah Seorang Anak

Diceritakan dari Hasan Al-Bashri, bahwasanya ia sedang duduk di pintu rumahnya tiba-tiba ada jenazah seorang lelaki di belakangnya di iringkan para manusia. Seorang putrinya ikut mengantarkan di bawah usungan jenazah itu dengan menguraikan rambutnya sambil menangis. Hasan Al-Bashri lalu bangun dan ikut mengantarkan jenazah itu. Wanita tadi berkata "Hai bapakku, selama umurku aku sudah tidak akan menghadapi hari seperti ini. "Hasan Al-Bashri berkata : "Kamu sudah tidak akan menghadapi ayahmu seperti hari ini". Hasan Al-Bashri lalu menyembahyangkan kemudian pulang. Pada pagi harinya Hasan Al-Bashri shalat subuh, dan waktu matahari terbit ia duduk di pintu rumahnya. Tiba-tiba ia melihat putri itu menangis dan pergi ke kubur bapaknya untuk menziarahinya. Hasan berkata : "Anak putri ini anak yang diberi hikmah, aku akan mengikutinya barangkali ia berbicara dengan ucapan yang bermanfa'at bagiku' Hasan Al-Bashri terus menyertainya.

Setelah putri itu sampai di kuburan bapaknya Hasan Al-Bashri bersembunyi dari pandangannya di bawah pohon berduri agar dia tidak terlihat Putri itu terus merangkul kubur bapaknya sambil meletakkan pipinya pada tanah seraya mengatakan : "Hai bapakku, bagaimana engkau bermalam sendirian dalam kegelapan kubur tanpa lampu dan tiada orang yang menyenangkan! Aduhai ayahku, sayalah yang menerangi lampu engkau kemarin malam. Maka siapakah yang menerangi lampu engkau tadi malam?

Sayalah yang mengalasimu kemarin malam, lalu siapakah yang mengalasimu tadi malam! Aduhai bapakku, akulah yang menyelimuti kedua tangan dan kakimu kemarin malam, maka siapakah yang menyelimutimu tadi malam! Hai ayah, akulah yang meminumi engkau kemarin malam lalu siapakah yang memberi minum engkau tadi malam! Hai ayah, akulah yang membolak-balikkanmu dari arah kanan ke kiri. Maka siapakah yang membolak-balikkan engkau tadi malam! Hai ayahku, akulah yang menutupi auratmu ketika telanjang kemarin malam, lalu siapa yang menutupimu tadi malam! Hai ayahku, akulah yang membayangkan mukamu kemarin malam, maka siapakah yang membayangkan mukamu tadi malam! Hai Bapakku, engkau kemarin ma1am memanggil aku lalu aku menjawab. Maka siapa yang engkau panggil dan yang menjawab engkau tadi malam!

Hai ayahku, sewaktu engkau menginginkan makanan akulah yang mengambilkannya kemarin malam, maka apakah engkau menginginkan makanan tadi malam dan siapakah yang memberi makanan tadi malam! Hai ayahku, akulah yang memasakkan makanan untukmu maka siapakah yang memasakkan makanan untukmu tadi malam?". Setelah Hasan Al-Bashri mendengar ucapan anak putri seperti itu, maka ia menangis dan menampakkan dirinya kepada wanita tadi dan mendekatinya seraya berkata : "Hai sang putri, janganlah anda mengucapkan perkataan-perkataan seperti itu, tetapi katakanlah : "Hai ayah, kemarin aku menghadapkanmu ke kiblat. Maka apakah engkau masih tetap menghadap kiblat atau sudah berpaling? Hai ayahku, aku mengkafanimu dengan kafan yang baik, maka apakah kafan itu masih tetap atau sudah terlepas! Hai ayahku, aku meletakkan tubuhmu da1am kubur dalam keadaan masih utuh, lalu apakah sekarang masih utuh seperti dulu apa sudah dimakan sindat!".

Dan ucapkanlah : "Hai ayahku, para Ulama telah berkata : "Seorang hamba akan ditanya tentang iman, sebagian mereka ada yang dapat menjawab dan yang lain tidak dapat. Maka apakah engkau dapat menjawab tentang iman atau tak dapat menjawab? Hai ayahku, para u1ama mengatakan : "Kubur itu ada yang diperluas untuk sebagian penghuninya dan ada yang disempitkan alas sebagian mereka. Maka apakah engkau diperluas atau disempitkan kubumya? Hai ayahku, bahwasanya ulama mengatakan : "Sebagian penghuni kubur itu ada yang diganti kafannya dari kafan syurga dan ada yang diganti dengan kafan neraka".

Maka apakah kafanmu itu diganti kafan dari neraka atau dari syurga! Hai ayahku, ulama mengatakan : "Kubur itu Suatu pertamanan dari pertamanan-pertamanan syurga atau suatu jurang dari jurang-jurang neraka". Hai ayahku, bahwasanya para ulama-berkata : "Kubur itu mendekap sebagian penghuninya sebagaimana mendekapnya seorang ibu pada anaknya, dan ada yang murka serta menjepit sebagian penghuninya sehingga remuk redam1ah tulang iganya". Maka kubur ini mendekap atau memurkaimu? Hai ayahku, bahwasanya ulama berkata : "Semua orang yang berada dalam kubur pasti menyesal. Bagi orang yang bertakwa sama menyesali karena merasa kurang banyak kebaikannya. Sedangkan orang yang ahli maksiat menyesali kejahatannya". Maka apakah engkau menyesali perbuaian jahat atau menyesali karena hanya sedikit amal kebaikannya? Hai ayahku, kemarin saya memanggil-manggil engkau dan engkaupun menjawabku.

Kini telah lama sekali aku memanggilmu di atas kepala kuburmu, maka bagaimana aku tidak mendengar suara jawabanmu? Hai ayahku, engkau sudah tidak akan berjumpa lagi denganku sampai hari kiamat. Ya Allah, janganlah Engkau menghalangiku untuk bertemu ayahku besuk hari kiamat!". Wanita tadi lalu berta kepada Al-Hasan : "Hai Al Hasan, saya sangat berterima kasih atas kebaikanmu mengingatkan ucapanku pada ayahku, dan terima kasih atas kebaikanmu mengingatkan tidurnya orang yang sama lupa". Akhirnya wanita itu pulang bersama Al Hasan dengan menangis.

Rasulullah saw. bersabda : "Pada hari kiamat Allah Ta'ala menutupi antara seorang hamba dan para manusia. Lalu buku catatan amal kebaikannya diserahkan dan disuruh membacanya. Selelah ia membacanya maka Allah Ta,ala berkata : "Apa yang kamu lihat?" Hamba menjawab : "Saya melihat kebaikan yang banyak". Allah Ta'ala bertanya : "Apakah ada sesuatu yang kurang dari kebaikan itu?" Hamba menjawab : "Tidak". Kemudian kitab catatan amal kejahatannya diserahkan kepadanya, ia disuruh membaca lalu iapun membacanya.

Maka Allah Ta'ala berkata : "Apa yang kamu lihat?", Jawab hamba : "Saya melihat banyak kejelekan". Allah Ta'ala bertanya: "Apa kamu sudah mengerti?" Hamba menjawab : "Benar saya mengerti". Allah Ta'ala: "Apakah ada sesuatu amalmu di tambah?'. Jawabnya : "Tidak". Kemudian ia diberi selembar kertas untuk dibaca lalu ia membacanya. Maka Allah Ta'ala berkata padanya: "Apa yang kamu lihat?" Hamba menjawab : "Aku melihal kebaikan yang banyak". Allah Ta'ala : "Apakah kamu tahu amal-amal kebaikan yang kamu baca itu?" Hamba menjawab : "Tidak", Kemudian Allah Ta'ala berfirman kepadanya : "Jadi amal-amal kebaikan ini dari sebab orang-orang yang menganiaya kamu, menyakitimu, dan mereka mengambil hartamu tanpa sepengetahuanmu",

Sumber : CyberMQ.com