02 Juni 2013

Bidadari Syurga

Peran wanita dalam kehidupan sering dianggap remeh, bahkan banyak suami yang melakukan tindakan kekerasan kepada istrinya hanya karena hal yang sepele , wanita ditindas, dianiaya bahkan sampai dibunuh, seakan wanita merupakan makhluk yang tidak ada gunanya.

Ingatkah kita akan sejarah umat pada zaman jahiliyah? Ketika wanita tidak mendapatkan tempat yang terhormat, bahkan bila seorang wanita melahirkan bayi perempuan, sang bayi langsung dikubur hidup-hidup, wanita dianggap tak ada harganya, ditindas, dianiaya bahkan dibunuh.

Ada seorang lelaki yang tengah duduk di pojok Masjid Nabawi sendirian, lelaki itu bernama Umar bin Khattab. Ia  merenung, kemudian menangis, tak lama kemudian ia tertawa.

Para sahabat yang menyaksikan menjadi bingung. Mengapa Umar menangis kemudian tertawa? Begitu pertanyaan yang bergejolak di hati mereka. Mereka pun menghampiri Umar dan menanyakan mengapa ia menangis kemudian tertawa?

Umar menjawab, ''Aku menangis karena teringat pada masa jahiliyah. Aku membawa anak perempuanku yang masih kecil ke tengah padang pasir, aku menggali lubang kemudian aku kubur anakku yang masih kecil tersebut hidup-hidup...''

Umar melanjutkan, ''Ia menangis, meminta tolong tapi hatiku tak terketuk sedikitpun, sampai kemudian aku tidak mendengar lagi suaranya, menghilang...''

''Mengingat hal itu aku menangis. Padahal dalam Islam kedudukan wanita begitu dihargai, dihormati dan perannya pun mendapatkan posisi yang sangat tinggi, baik dalam keluarga, masyarakat maupun dalam Negara.''

Sedangkan yang membuat aku tertawa karena teringat pada masa jahiliyah dahulu. Aku melaksanakan perjalanan jauh, segala kebutuhan aku persiapkan dengan baik termasuk membawa patung yang terbuat dari roti. Dengan harapan, bilamana aku berhenti di tengah jalan untuk beristirahat aku bisa menyembah tuhanku yang aku buat dari roti tersebut, namun kenyataan berkata lain.

Aku kehabisan bekal makanan dalam perjalanan, lalu aku makan sedikit demi sedikit tuhan yang terbuat dari roti tersebut. Mengenang hal itu aku tertawa alangkah kuatnya aku bisa memakan tuhanku sendiri.

Berkaca dari peristiwa yang dialami oleh Umar bin Khattab, pada zaman sekarang ini, tampaknya tidak banyak perubahan dengan zaman jahiliyah dahulu, wanita tidak dihargai, dilecehkan, dianggap remeh, seakan wanita adalah makhluk yang lemah tidak memiliki daya apapun.

Padahal di balik ciptaan Allah SWT tersebut terdapat potensi yang luar biasa. Wanita dapat melahirkan generasi yang qur’ani, wanita dapat mendidik anak-anaknya dengan pendidikan yang berkualitas.

Wanita dapat mengatur rumah tangganya dengan baik, wanita dapat mengatur segala kebutuhan suaminya di rumah, bahkan di balik kesuksesan suami, terdapat peran seorang istri (wanita) yang luar biasa.

Tentu saja ini memberikan ‘ibroh (pelajaran) buat kita, posisi wanita begitu terhormat di mata Islam. Adalah
salah bila kita memperlakukan wanita dengan semena-mena, menganggap kecil peran wanita.

Hal ini sangat dilarang Islam. Bukankah Rasulullah saw bersabda dalam sebuah hadits yang artinya: “Ada tujuh kewajiban seorang muslim terhadap muslim yang lainnya, diantaranya adalah memandang seseorang dengan pandangan terhormat.''

Bisakah kita memandang wanita dengan pandangan terhormat? Bisakan kita memperlakukan wanita dengan baik? Mampukan kita menghargai usaha dan jerih payah wanita?

Tentu saja harus bisa, wanita adalah pendamping hidup bagi laki-laki, wanita adalah penyempurna hidup bagi laki-laki, wanita adalah bidadari surga yang Allah turunkan ke muka bumi untuk mendampingi laki-laki. Wallahu’alam bish-shawab.


Oleh : H. Ahmad Dzaki, MA | Republika

10 Teman Iblis


Dalam riwayat Imam Bukhari, diceritakan, suatu saat ketika sedang duduk, Rasulullah saw didatangi seseorang. Rasul bertanya kepadanya: “Siapa Anda?” Ia pun menjawab: “Saya Iblis.”

Rasul bertanya lagi, apa maksud kedatangannya. Iblis menceritakan kedatangannya atas izin Allah untuk menjawab semua pertanyaan dari Rasulullah saw.

Kesempatan itu pun digunakan Rasulullah saw untuk menanyakan beberapa hal. Salah satunya mengenai teman-teman Iblis dari umat Muhammad saw yang akan menemaninya di neraka nanti? Iblis menjawab, temannya di neraka nanti ada 10 kelompok.

Yang pertama, kata Iblis, haakimun zaa`ir (hakim yang curang). Maksudnya adalah seorang hakim yang berlaku tidak adil dalam menetapkan hukum. Ia menetapkan tidak semestinya.

Tak hanya hakim, dalam hal ini bisa juga para penegak hukum secara umum, seperti polisi, jaksa, pengacara, dan juga setiap individu, karena mereka menjadi hakim dalam keluarganya.

Yang kedua, kata Iblis, ghaniyyun mutakabbir (orang kaya yang sombong). Ia begitu bangga dengan kekayaan dan enggan mendermakan untuk masyarakat yang membutuhkan.
Dia menganggap, semua yang diperolehnya merupakan usahanya sendiri tanpa bantuan orang lain. Contohnya seperti Qarun.

Ketiga, taajirun kha’in (pedagang yang berkhianat). Ia melakukan penipuan, baik dalam hal kualitas barang yang diperdagangkan, maupun mengurangi timbangan.

Bila membeli sesuatu, dia selalu meminta ditambah, namun saat menjualnya dia melakukan kecurangan dengan menguranginya.

Disamping itu, ia menimbun barang. Membeli di saat murah, dan menjualnya di saat harga melambung tinggi. Dengan begitu, dia memperoleh untung besar.
Demikian juga pada pengerjaan proyek tertentu, ia membeli barang dengan kualitas rendah untuk meraih keuntungan berlipat (mark up).

Kelompok keempat yang menjadi teman Iblis adalah syaaribu al-khamr (orang yang meminum khamar). Minuman apapun yang memabukkan, ia termasuk khamar. Misalnya arak, wine, wisky, atau minuman yang sejenisnya.

Dalam sebuah riwayat disebutkan, peminum khamar (pemabuk) dikatakan tidak beriman, jika dia meninggal nanti masih terdapat khamar dalam tubuhnya.

Yang kelima, al-fattaan (tukang fitnah). Fitnah lebih berbahaya dari pada pembunuhan (al-fitnatu asyaddu min al-qatl). Lihat QS al-Baqarah [2]: 191.

Membunuh adalah menghilangkan nyawa lebih cepat, namun fitnah ‘membunuh’ seseorang secara pelan-pelan. Fitnah ini bisa pula ‘pembunuhan’ karakter seseorang.

Fitnah itu di antaranya, mengungkap aib seseorang yang kebenarannya tidak bisa dipertanggungjawabkan, gosip, ghibah, dan lainnya.

Keenam adalah shaahibu ar-riya` (orang yang suka memamerkan diri). Mereka selalu ingin menunjukkan kehebatan dirinya, menunjukkan amalnya, kekayaannya, dan lainnya. Semuanya itu demi mendapatkan pujian.

Ketujuh, //aakilu maal al-yatiim// (orang yang memakan harta anak yatim). Mereka memanfaatkan harta anak yatim atau sumbangan untuk anak yatim demi kepentingan pribadi atau kelompoknya. Lihat QS al-Ma`un [107]: 1-7.

Kedelapan, al-mutahaawinu bi al-shalah (orang yang meringankan shalat). Mereka memahami perintah shalat adalah kewajiban, namun dengan berbagai alasan, akhirnya shalat pun ditinggalkan. Allah juga mengancam Muslim yang melalaikan shalat.

Kesembilan, maani’u az-zakaah (orang yang enggan membayar zakat). Mereka merasa berat untuk mengeluarkan zakat, walaupun tujuan zakat untuk membersihkan diri dan hartanya.

Teman Iblis yang ke-10 adalah man yuthiilu al-amal (panjang angan-angan). Enggan berbuat, namun selalu menginginkan sesuatu. Dia hanya bisa berandai-andai, tapi tak pernah melakukan hal itu. Wallahu a’lam.

Oleh Syahruddin El-Fikri | Republika